INSPIRATIF! Mantan TKI Ini Sukses Bangun Toko Kelontong Dengan Modal Awal 3 Rak Dagangan!

Posted on

Berbicara tentang tenaga kerja Indonesia atau yang biasa disebut dengan TKI, selalu saja ada kisah-kisah menarik di dalamnya. Salah satunya kisah kesuksesan yang diraih oleh Mantan TKI asal Ponorogo, Jawa Timur ini. Namanya Isnaini Faiz Prakoso (44 tahun) atau yang lebih akrab dipanggil Pak Pras.

Isnaini Faiz Prakoso atau Pak Pras awalnya merupakan tenaga kerja Indonesia di Korea dan Taiwan. Ia memulai karir ketenagakerjaan-nya sejak awal tahun 1996. Namun saat ini, pria asal Ponorogo yang dulunya pernah nyantri di Pesantren Modern ini telah berhasil memiliki usaha kelontong A3 Mart yang berada di Jalan Mayjen Sutoyo 15, Ponorogo, Jawa Timur.

Bagaimana cara mantan TKI tersebut meraih kesuksesannya? Berikut 3 kiat sukses ala mantan TKI, Isnaini Faiz Prakoso yang saat ini menjabat sebagai motivator dan Ketua Sampoerna Ritel Community:

1. Semangat Dalam Berusaha

Pria yang dilahirkan dari keluarga buruh tani ini mengaku awalnya tertarik untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia karena melihat para tetangganya yang dengan mudah membeli rumah, kendaran dan lain sebagainya ketika sudah bekerja di negara lain.

Dengan semangat untuk memperbaiki ekonomi keluarga, plus modal uang dari hasil meminjam ke tetangganya, Pras akhirnya membulatkan tekad untuk berangkat menjadi Tenaga Kerja Indonesia ke Korea pada awal tahun 1996. Namun sayangnya, hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja telah terjadi krisis ekonomi yang melanda dunia sehingga perusahaannya memulangkannya karena mengalami kebangkrutan.

Setelah pulang ke tanah air, masih dengan semangat yang sama Prakoso memutuskan kembali menjadi Tenaga Kerja Indonesia dengan negara tujuan Taiwan. Dengan modal pinjaman uang dari Bank dan jaminan sertifikat, Pras berangkat ke Taiwan. Seiring berjalannya waktu, berkat kerja kerasnya ia berhasil membeli sebuah ruko di tepi jalan utama di kota kelahirannya, Ponorogo, Jawa Timur.

2. Pantang Menyerah

Sifat pantang menyerah Prakoso terlihat saat dia dua kali menjadi TKI di dua negara berbeda. Sempat merasakan enaknya 2 tahun menjadi TKI di Korea, dia harus di pulangkan karena perusahaan tempatnya bernaung mengalami kebangkrutan akibat dari krisis ekonomi dunia. Setelah pulang ke tanah air, tak menunggu lama dia berangkat lagi menjadi TKI ke Taiwan.

Sifat pantang menyerah lainnya adalah terlihat ketika Pras jatuh bangun mengawali usaha toko kelontongnya. Mulai dari sumber daya yang minim hingga salah dalam mengelola keuangan. Tapi dengan sifat pantang menyerahnya, Pras berhasil mengembangkan usaha kelontong miliknya hingga memiliki karyawan 15 orang dengan omset rata-rata 15 juta per hari.

3. Tekun dan Jeli Melihat Peluang

Saat Prakoso menjadi TKI di Taiwan, dia tidak hanya bekerja sebagai operator mesin saja. Dia berinisiatif untuk berjualan pulsa, mie instan, saos, kecap maupun rokok yang targetnya adalah teman-teman sesama Tenaga Kerja Indonesia yang berada di sana. Saat itu, jumlah Tenaga Indonesia mencapai 130 hingga 200-an orang.

Berawal dari situlah, jiwa berwira usahanya muncul. Selain berjualan, ia juga dipercaya menjadi agen jasa pengiriman uang oleh teman-teman sesama Tenaga Kerja Indonesia. Akhirnya dengan ketekunannya plus jiwa berwira usaha yang mulai tumbuh dan terasah, Pras berhasil membuka toko kelontong pada tahun 2008. Toko tersebut ia beri nama A3 Mart.

Berawal hanya memiliki tiga rak dagangan saja, toko A3 Mart kini menjelma menjadi sebuah ritel yang besar. Kesuksesan yang diraihnya tidak mudah begitu saja. Berbagai halangan dan rintangan telah dihadapinya. Namun dengan semangat, pantang menyerah dan ketekunan yang dimiliki akhirnya ia bisa sukses mewujudkan impiannya.

Itulah beberapa kiat sukses ala mantan Tenaga Kerja Indonesia yang kini menjabat sebagai ketua Sampoerna Ritel Community. Jika Anda mau berusaha pasti akan menemukan jalannya.

Sumber : Liputan 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *